Asam rumbia dibelah-belah,
Buah separah dalam raga;
Dunia ikut firman Allah,
Akhirat juga mendapat syurga
Bunga melur berjinjang-jinjang,
Bunga mawar dalam raga;
Minta doa umur panjang,
Lambat laun bertemu juga.
Delima batu dipenggal-penggal,
Bawa galah ke tanah merah;
Lima waktu kalau ditinggal,
Allah taala memang marah.
Tuan kayuh orang berempat,
Tuan menuju ke rumah raja;
Kalau sampai di Batu Pahat,
Macam menitik air mata.
Burung disebut si burung merak,
Menjadi ratu istana rimba;
Untung sabut timbul nampak,
Untung batu tenggelam hamba.
Bunga mawar dalam raga;
Minta doa umur panjang,
Lambat laun bertemu juga.
Delima batu dipenggal-penggal,
Bawa galah ke tanah merah;
Lima waktu kalau ditinggal,
Allah taala memang marah.
Tuan kayuh orang berempat,
Tuan menuju ke rumah raja;
Kalau sampai di Batu Pahat,
Macam menitik air mata.
Burung disebut si burung merak,
Menjadi ratu istana rimba;
Untung sabut timbul nampak,
Untung batu tenggelam hamba.
Pagi-pagi kapal berlabuh,
Singgah di Bentan membeli kopi;
Bangun pagi sembahyang Subuh,
Minta Tuhan tambahkan rezeki.
Anak-anak di kayu tinggi,
Tempat galah si daun pisang;
Anak dagang menumpang di sini,
Bajulah basah kering di pinggang.
Buah mempelam di tepi kota,
Dibawa budak dari seberang;
Makan berulam si air mata,
Mengenangkan untung dagang seorang.
Orang Jawa membuat tapai,
Raginya datang dari seberang;
Selagi cita-cita tidak tercapai,
Biar mati di rantau orang.Air pasang tenang di hulu,
Kain tudung hias di pintu;
Jika terkenang masa dahulu,
Jantung berperang dengan hempedu.
Sungguh harum melati di taman,
Ditiup angin jatuh ke riba;
Biar hilang nyawa dan badan,
Namun cinta tetap tak lupa.
Tabuh bunyi hari Jumaat,
Itu bernama gendang raya;
Bagai nabi kasih umat,
Begitu juga kasih saya
Tudung periuk pandai menari,
Buatan orang Melaka;
Kain buruk berikan kami,
Akan pemalit si air mata.

No comments:
Post a Comment